Ada Udang Di Balik Batu : Warga Kembalikan Paket Sembako Dari PT Frans Putra Textile

SERANG (Banten) Salingsapa info | Berbagai cara bisa dilakukan oleh siapa pun juga yang membutuhkan dukungan masyarakat, tidak terkecuali perusahaan-perusahaan yang memang letaknya sangat berdekatan dengan lingkungan.

Menebar sembako dengan harapan mendapatkan dukungan dari warga Cibeureum dilakukan oleh pihak PT. Frans Putra Textile kepada sebagian warga demi mengambil hati agar mudah diberikan Izin keberadaan satelit pompa air berskala besar milik PT Frans Putra Textile yang beralamat di Kampung Cibeureum, Desa Cikande, Kecamatan Cikande Kabupaten Serang

Namun harapan tak sesuai kenyataan, kali ini pihak Pt.Frans Putra Textile harus menelan pil pahit, Rabu (14/10/2020), warga secara sukarela mengembalikan sembako yang telah diterimanya, kepada pihak perusahaan (PT.Frans Putra Textile).

Dalam video berdurasi 00:34 detik, tampak dua orang karyawan dari perusahaan menerima pengembalian sembako dari warga.

Seorang warga sempat di tanya oleh tim media dalam bahasa sunda,

“Tos naon teh.?
(Habis ngapain Kak.?)
“Nganteurkeun sembako,”
(Nganterin/kembalikan sembako)

Mengutip statement yang diberikan oleh Hasan Basri selaku Tokmas Cibeureum di beberapa media online, Selasa (13/10/2020), Dia menilai hal tersebut dianggapnya kurang etis karena bantuan yang diberikan oleh perusahaan bukan sebagai itikad baik, melainkan memiliki maksud tertentu.

“ Oleh sebab itu kami beserta warga sekitar perusahaan PT Frans Putra Textile menolak bantuan sembako, yang awalnya menurut pihak perusahaan yaitu pak Fery bahwa bantuan ini adalah bentuk CSR dari perusahaan,”tegasnya.

Kami melihat pembagian sembako ini tidaklah murni, karena warga penerima sembako diharuskan tanda tangan surat persetujuan tidak keberatan serta mengijinkan adanya satelit pompa air,terang Hasan Basri.

“Apalagi warga diminta serahkan poto copy KTP dan Kartu Keluarga,ungkap Hasan, inilah yang menjadi ganjalan kami selaku perwakilan warga penerima sembako.

Alfian selaku tokoh pemuda Desa Cikande memiliki analisa tersendiri, menurutnya penolakan sembako oleh warga Cibeureum karena tidak adanya koordinasi pihak perusahaan terhadap masyarakat sekitar.

“ Mestinya ada Koordinasi, tokoh masyarakat disini perlu dilibatkan sejak awal. Baik mengenai upaya perizinan maupun pembagian paket sembako,”harap Alfian.

Alfian pun menyebutkan jumlah sembako yang dibagikan hanya 30 kantong, ada kesan pilih kasih.

“Tidak semua warga mendapatkan sembako, cuma 30 kantong sembako yang mereka bagikan untuk 30 warga, hal ini bisa membuat kisruh maka dari itu warga sepakat untuk mengembalikan sembako,”jelas Alfian.

Sampai berita ini naik, belum ada dari pihak perusahaan yang dapat di konfirmasi oleh tim media. (tim/red)